Selamat datang di website kami!
×

Kekompakan Juru Pelihara Situs Cagar Budaya di Tulungagung Membuahkan Hasil

Last Updated 2020-06-23T07:59:12Z
Donald Trump
Kekompakan Juru Pelihara Situs Cagar Budaya di Tulungagung Membuahkan Hasil

JAWA TIMUR - KABUPATEN TULUNGAGUNG

Tulungagung – Hingga menjelang sore para jupel (juru pelaksana) masih kerja bakti membersihkan jalan dan merapikan halaman sekitar lokasi situs Cagar Budaya. Mereka para jupel berinisiatif untuk mengagendakan kerja bakti di roling bergantian dari situs ke situs lainnya di seluruh Tulungagung. Seluruh anggaran kerjabakti merupakan swadaya para jupel. Dengan iklas mereka mempercantik halaman di situs Coguru desa Tulungrejo kecamatan Karangrejo kabupaten Tulungagung, senin(8/12/2025).

 

Tulungagung memiliki banyak peninggalan situs bersejarah. Karena Ngrowo (sebelum nama Tulungagung muncul) adalah daerah yang aktif dalam dinamika geo politik. Dari berbagai era kerajaan, mulai dari Mataram Hindu hingga Mataram Islam.

 

Banyaknya peninggalan-peninggalan bersejarah prasasti maupun tempat pendarmaan, patut kita menghormati sebagai bagian dari rentetan sejarah berdirinya Indonesia. Hingga negara pun hadir melalui undang-undang tentang perlindungan benda purbakala yakni undang-undang NO. 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

 

Mas Andi jupel Candi Dadi sebagai inisiator kerjabakti situs mendorong dan menyemangati para jupel untuk iklas ketika membersikan, menata jalan, merespon lingkungan situs agar tampak indah dan asri, sebagai upaya melestarikan cagar budaya.

 

Masing-masing situs bersejarah ada yang memiliki fungsi untuk peribadatan maupun spiritual, meraka para pelaku banyak dari luar jawa maupun dari lokal. Pemeluk Hindu Bali yang mendatangi Candi Gayatri, Candi Sanggrahan, dan Candi Dadi jumlahnya semakin banyak.

 

Dengan dibuka nya wisata spiritual, masing-masing situs diposisikan sebagi tempat suci, istilahnya “ADA PATIRTAN ADA PAMUJAN” kelengkapan prasarana yang memadai dan nyaman, akan menjadi daya tarik bagi pelaku spiritual.

 

Di berbagi tempat untuk kegiatan sakramen, memang tidak boleh diperlakukan sembarangan. Artinya kita juga memperhatikan bahwa tidak boleh kencing sembarangan di tempat sekitar bangunan pendarmaan, maka dari itu selayaknya di sediakan MCK, seperti di Candi Gayatri, dan Candi Sanggrahan.

 

Masih banyak situs-situs di Tulungagung yang belum ada kelengkapan sarana, maka dari itu untuk melestarikan icon wisata spiritual, harus di upayakan agar tempat terjaga kebersihannya dan pelaku nyaman dalam menjalankan ritual.

 

Maka dari itu perlu ada komunikasi antara jupel masyarakat setempat dan kepala desa agar semua struktur masarakat punya kepedulian dan turut melestarikan peninggalan peradaban masalalu. (Red.Thr)

×
Berita Terbaru Update