|
|
Kadin Tulungagung Mengadakan Seminar Bedah Sejarah Tulungagung |
cairantinta.id || Di kantor Kadin Tulungagung jalan KH. Agus Salim nomor 74 kelurahan Kenayan, atau biasa disebut Gorga. Karena di zaman belanda gedung itu untuk pos militer, tentara bayaran dari india atau tentara gorga. Acara seminar sejarah tersebut di buka pukul 20.00 WIB oleh ketua Kadin Rifqi Firmansyah (23/12/25).
Kurang lebih seratus undangan dari berbagai lapisan masyarakat, mulai dari dinas terkait, mahasiswa, tokoh masyarakat, maupun pelaku seni dan budaya. Sebelum acara seminar di buka, ada sajian kesenian jaranan senterewe sebagai brand kesenian khas Tulungagung. Meskipun tampilan jaranan hanya sebentar, cukup untuk memperkenalkan ke khalayak umum.
Seminar sejarah menghadirkan tiga narasumber, diantaranya Andri Syambudi dengan keahlian di bidang kepurbakalaan. Menurutnya Tulungagung di era prasejarah sudah ada peradaban dengan di temukannya kerangka manusia purba di wilayah wajak song gentong desa Gamping kecamatan Campurdarat. Kerangka dan tengkorak manusia di perkiraan berusia 10.000 tahun sebelum masehi. Dan adanya beberapa peninggalan batu sebagai sebuah alat.
Sementara narasumber kedua Agus Utomo dengan spesifikasi di penelitian tentang Tulungagung di era Mataram Islam. Menurutnya Tulungagung mengalami akulturasi dari berbagai peradaban mulai dari zaman hindu budha hingga era kasunanan dan kasultanan. Percampuran banyaknya elemen budaya, Tulungagung menjadi daerah yang multi kultural. Artinya Tulungagung adalah daerah yang secara psikologis, masyarakatnya sangat terbuka.
Adapun narasumber ketiga, M. Abdillah Subhin. Sebagai wakil ketua Kadin, Gus Dillah biasanya dipanggil juga aktif di berbagai diskusi-diskusi kebudayaan. Apa yang di tangkap di dinamika antropologi bahwa manusia itu homo religion artinya setiap manusia membutuhkan ruang religi, entah itu dari zaman homo sapien maupun di zaman modern ini. Pesan-pesan religi bisa kita jumpai di berbagai tempat dalam bentuk karya seni seperti menhir, batu lingga yoni, hingga pada simbol menara, dan kubah masjid.
Banyak audiens antusias dengan diadakannya seminar sejarah didaerahnya, membahas daerahnya, masa lalu, dan potensi masa depan suatu daerah. Banyaknya pertanyaan yang diajukan dari audien ke narasumber. Menunjukan bahwa masyarakat Tulungagung kritis terhadap daerahnya, ini sebagai indikator masyarakat yang kritis mudah untuk di ajak maju.Sesi terakhir dari acara seminar, pembagian sovenir sebagai tali asih untuk audiens dan ditutup dengan do’a bersama. (Tohari)
