|
|
DBD di Trenggalek Turun, Angka Kematian Tak Beruba |
Trenggalek cairantinta.id. Penurunan tajam kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Trenggalek sepanjang 2025 belum sepenuhnya menjadi kabar baik. Di tengah tren penurunan tersebut, angka kematian akibat DBD tercatat tidak berubah dibanding tahun sebelumnya.
Data Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkesdalduk KB) Trenggalek menunjukkan, sepanjang 2025 terdapat dua kasus kematian akibat DBD, jumlah yang sama dengan catatan 2024. Kondisi ini menandakan bahwa penurunan penularan belum diikuti perbaikan dalam pencegahan kematian.
Kepala Dinkesdalduk KB Trenggalek, dr Sunarto, mengatakan dua kematian tersebut dipicu oleh keterlambatan pasien mendapatkan penanganan medis. Menurut dia, sebagian warga masih menganggap demam tinggi sebagai keluhan biasa sehingga menunda pemeriksaan ke fasilitas kesehatan.
“DBD tidak bisa disamakan dengan demam biasa. Kalau terlambat ditangani, pasien bisa masuk fase kritis dalam waktu singkat,” kata dr Sunarto, Senin (5/1/2026).
Evaluasi dinas kesehatan menyebutkan, lemahnya deteksi dini di tingkat keluarga menjadi faktor dominan. Pasien baru dibawa ke puskesmas atau rumah sakit ketika kondisi sudah memburuk, sehingga risiko komplikasi berat meningkat.
Dinkes menilai keputusan cepat keluarga untuk membawa pasien sejak gejala awal muncul menjadi kunci menekan angka kematian. Gejala seperti demam tinggi mendadak, nyeri sendi, dan muncul bintik merah seharusnya segera diperiksakan.
Di sisi pencegahan, pemerintah daerah terus mengandalkan Gerakan 3M Plus untuk memutus rantai penularan. Upaya ini mencakup pengelolaan tempat penampungan air, pemanfaatan barang bekas, serta perlindungan tambahan dari gigitan nyamuk.
Meski fogging dan penyaluran larvasida masih dilakukan di wilayah endemis, dr Sunarto menegaskan langkah tersebut hanya bersifat respons cepat. “Perubahan perilaku masyarakat tetap menjadi faktor paling menentukan,” ujarnya.
Dinkes Trenggalek mengingatkan masyarakat agar tidak lengah, terutama di tengah cuaca ekstrem dan musim hujan yang tidak menentu. Penurunan kasus dinilai belum cukup jika masih menimbulkan korban jiwa.
(bg)
